Sunday, February 26, 2006
Antara TV 7 dan SBY
Walaupun sudah lama akrab dengan komputer dan internet, saya bukan tipe orang yang kenal dengan seluk beluk pemograman. Kalau kata rekan saya yang menggeluti IT, saya ini termasuk end user. Tapi kemarin, seperti biasa karena penasaran ada apa dengan dunia, saya pun lihat-lihat berita.

Aksi mouse berhenti di Detik dan ketemu berita menarik soal serangan hacker di situs TV7. Di situ ditulis situs terganggu dari sore sampai malam. Saya coba suruh teman sekantor untuk ngecek apa sudah benar, ternyata ok...sekitar Sabtu jam 11 malam.

Yang saya senang waktu baca berita itu adalah tulisan redaksi Detik yang cukup gaul, dari judulnya bisa diambil kesimpulan, malam mingguan kok kena hack...:D

Saya pikir si punya gawe hanya mencoba-coba ilmu baru atau mau ujian skripsi? Pasalnya, situs itu ternyata tidak menemui gangguan berarti kecuali mata yang sepet. Yang saya tahu, tak ada data online TV7 yang rusak. Yang lucu, satu komentator malah menghubungkan dengan urusan apel malam mingguan...LoL!

Kursor terus bergerak ke bawah...eh...ada berita lagi. Situs resmi Presiden SBY sudah coba "diserang" oleh banyak hacker. Dikatakan mulai dari yang sekadar menguji tingkat keamanan situs atau pun yang memang serius berniat negatif.

Tapi inilah (mungkin) keuntungan situs yang dibangun di atas dana Rp 84 juta dan digawangi oleh orang-orang IT yang punya kemampuan di atas rata-rata. Namanya juga situs RI 1, mana mungkin lembek kaya getuk. Tapi saya lebih setuju dengan para komentator di berita itu, walau benci dengan presiden sendiri, mbok jangan begitu...

 
posted by Hedi @ 5:33 PM | Permalink | 6 comments
Maling ATM Bikin Bingung
Soal korupsi di Indonesia, itu sudah jadi rahasia umum * rahasia kok umum sih*. Tapi begitu adik saya yang kerja di bank cerita soal satpam yang ngembat duit orang di mesin ATM, saya jadi bingung. Satpam itu bisa mengambil uang dua juta setengah rupiah karena sang pemilik kartu ATM lupa mencabutnya dari mesin, wah...wah...maling berseragam lagi. Tragisnya, satpam itu punya nominal gaji sama besar dengan uang yang ditilepnya.

Seketika, saya bertanya dalam hati. Apa kita ini (orang Indonesia) punya mental terpendam sebagai maling jika ada kesempatan. Seringkali kita mengumpat orang yang diberitakan koran atau tv melakukan korupsi. Tapi begitu kita berada dalam situasi sama dengan orang-orang itu, mungkin, akan melakukan hal yang sama pula. Saya sih (mudah-mudahan) tidak akan begitu.

Jaman Komisi Pemilihan Umum (KPU) merekrut orang-orang yang punya kredibilitas bagus jelang pemilu, saya sempat salut. Tapi begitu selesai pemilu, kabar korupsi besar-besaran di KPU merebak, lagi-lagi saya punya pikiran di atas. Jangan-jangan, materialistis jadi segalanya di negeri ini.

Saya jadi ingat kawan kuliah saya yang juga gak mau mengembalikan uang transfer yang salah masuk ke rekening bank-nya. Awalnya, dia bingung kok ada uang jutaan masuk ke rekeningnya, tapi setelah itu, buru-buru diambil dan dihabiskan buat beli sound effect gitar. Namun setelah itu, dia pun dikejar pihak bank supaya mengembalikan uang salah alamat tersebut.

Saya pernah ketemu orang Amerika yang sempat ngobrol panjang lebar dengan saya di Bali beberapa waktu lalu. Saya bilang kadang malu jadi orang Indonesia karena korupsinya yang hebat, tapi dia dengan lantang membesarkan hati saya.

"Don't be shy, corruption could happen in any other place, even in my country. Indonesia is still great and nice country for me. It's shame, but not disgraceful enough," ucap si bule waktu itu...*wah saya masih ingat persis ucapannya*.

Sekarang ini tinggal adik saya yang bingung. Itu satpam harus dipecat tanpa perlu mengembalikan uang atau dipecat dan juga mengembalikan uang jarahan. Bingung...bingung...
 
posted by Hedi @ 7:54 AM | Permalink | 4 comments
Friday, February 24, 2006
Rekomendasi Kerja
Pernahkah punya beban mental saat akan memasukkan teman untuk kerja di suatu tempat? Saya baru saja memberi rekomendasi kepada kantor komisaris supaya teman bisa kerja di sana. Posisinya memang bukan staf, hanya kerah biru, sebagai pengantar surat. Tapi karena di kantor itu pernah punya pengalaman buruk soal karyawan "titipan", maka mereka menanyakan itu.

"Orang ini jaringannya siapa, kamu mas? Dijamin gak akan seperti si *** kan?" tanya seorang sumber di kantor itu tadi pagi.

Saya merasa sedikit lemas seketika, tapi sekian detik kemudian dengan mantap saya katakan berani menjamin. Apalagi dia tetangga saya sendiri dan saya tahu benar kapasitasnya untuk bekerja di sana, minimal sebagai pengantar surat yang harus paham jalan-jalan di Jakarta ini.

Memang ada saja orang yang kadang tak tahu diri bahwa bekerja melalui jalur khusus harus menjaga kondite. Bukan hanya untuk kredibilitas di pemberi jalan, tapi untuk dia sendiri ke depannya. Satu hal yang kadang orang lupa saat sudah bekerja adalah mempersiapkan mental sebagai pekerja yang baik. Pernah ada tetangga saya harus rela dipecat kerja, hanya karena dia telat masuk setelah malamnya begadang bermain kartu...waduh!

Masalah seperti itu sudah sering terjadi. Bahkan seorang teman di kantor saya yang kerja di bagian IT sempat menjadi cemoohan karena bulan lalu pindah kantor tanpa ada permisi resmi, kecuali dengan SMS *hayahhh*.

Harusnya mereka sadar diri dan mengerti bahwa proses penerimaan karyawan dilakukan baik-baik hingga proses kerja menjadi lancar. Kemudian jika ingin resign, ya lakukan dengan baik pula, ada serah terima pekerjaan, ada aturan mohon diri minimal dengan wajar seperti layaknya orang bertamu ke kediaman orang lain.

Menyambung soal teman tadi pagi, saya juga senang akhirnya dia bisa menjalani sesi interview dengan baik. Dia dan saya belum tahu bagaimana hasilnya, meski saya optimis. Kini yang ada di pikiran saya hanya melakukan sosialisasi agar saat bekerja di sana nanti dia bisa menjaga kondite dan kredibilitas. Semoga...

Ngomong-ngomong urusan kerja, hari ini ada satu email di inbox yang isinya sebuah lamaran kerja plus CV dari seorang wanita. Lho, kapan saya buka lowongan? Apa orang itu hanya iseng mengirim secara random ke email orang lain....tau ah gelap!
 
posted by Hedi @ 2:06 AM | Permalink | 7 comments
Tuesday, February 21, 2006
Ibu Sarie vs Moge
Seminggu ini satu milis yang saya ikuti, penuh dengan ulasan bentrok Ibu Sarie dengan pengendara motor gede di daerah Cinere, Jakarta Selatan. Saya sendiri ga terlalu ngikuti detilnya. Yang saya tahu, Ibu Sarie mengklaim dilecehkan dan mobilnya mendapat kerusakan dari kelompok moge itu.

Tapi hari ini, ada email terbaru soal bantahan dari kedua belah pihak yang bertikai *kaya perang aja*. Intinya, kedua belah pihak punya versi kebenaran masing-masing. Dan sepertinya, urusan mereka berdua, kalaupun benar, hanya melibatkan oknum tertentu.

Buat saya masalah seperti ini biasa terjadi di jalanan, terutama di Jakarta. Semuanya berawal dari kesombongan dan merasa dirinya benar. "Ah, saya ada di jalur yang benar kok, mereka yang harus ngalah." Itu salah satu ungkapan yang biasa saya dengar.

Tadi waktu berangkat ke kantor, juga ada dua pengendara motor saling ngotot arahnya yang benar. Satu berusaha menerobos lampu merah dan yang lain merasa punya hak lewat karena sudah hijau. Saya sendiri pernah jatuh gara-gara sombong di jalanan dan insiden itu membuat saya punya hikmah. Mengalah adalah jawaban terbaik, kan paling cuma sekian menit, gak sampai satu jam. Tapi saya gak mau munafik, kalau jalan sudah macet parah, emosi memang bisa memuncak.

Cuma, apa tabiat orang kita yang memang suka kelewat batas? Entah arogansi karena status, jabatan, atau predikat lainnya. Berapa banyak kita sering lihat kendaraan ditempeli stiker militer, gantungan tanda pangkat, atau yang menandakan keunggulan. Memangnya, kalo motor atau mobil ditempeli stiker Polisi Militer (yang dijual bebas itu), gak mungkin kena tabrak?

Urusan melanggar lampu merah, saya pun paling anti biarpun jalan sedang sepi sekalipun. Yang pertama, merah berarti berhenti. Kedua, saya gak mau dibilang orang kurang pengetahuan. Kalaupun begitu ya saya terima, tapi orang lain gak perlu tahu. Karena saya melanggar, orang lain pun jadi tahu, walaupun belum tentu kenal saya.

Mungkin benar kata orang-orang tua, bangsa kita umumnya bermental budak. Kalau ada petugas bisa tertib, kalau petugas hilang, semrawut lagi...
 
posted by Hedi @ 11:27 PM | Permalink | 9 comments
Sunday, February 19, 2006
Viva Vina
Waktu ada konser 3 diva bulan lalu, saya termasuk yang kecewa walaupun saya penggemar Ruth Sahanaya. Maklum konser 3 diva termasuk buruk baik dari segi tata suara maupun repertoar yang terlalu banyak dan tak pada tempatnya.
Tapi nonton konser Vina Panduwinata hari Sabtu...wow saya seneng sekali, puas. Vina yang sudah jarang tampil di panggung musik ternyata masih bisa nyanyi dengan vokal prima hampir dua jam penuh. Addie MS sebagai music director (bersama Twilight Orchestra-nya) juga keren (tapi kenapa sedikit improvisasi aransemen?). Tata suara balance, tata lampu bagus, dan repertoar Vina tidak membosankan alias cukup dan perlu. Kelemahan....aha...kenapa kostum Vina malah terkesan ribet. Mau konser kok disediakan baju yang njelimet seperti itu?
Vina menghidupkan kenangan saya kepada masa lalu, masa masih smp dan sma. Lagu-lagu Citra Biru, Kumpul Bocah, dan sebagainya masih saya hapal sampai sekarang. Vina selain punya keunggulan teknis dan berbakat boleh dibilang beruntung punya daftar lagu yang tak akan bosan didengar kuping.
Para penyumbang lagu untuk album-albumnya sangat mengerti karakter vokal Vina sehingga Oddie Agam, Dodo Zakaria, Fariz RM, James S. Sundah atau yang lainnya bisa memberi lagu yang enak untuk dinyanyikan dan juga didengar.
Seperti biasa, konser artis kita selalu dihadiri pula oleh sesama artis. Vina hadir saat konser 3 diva berlangsung, tapi hari ini saya tak tahu apakah Ruth, Krisdayanti dan Titi DJ juga hadir di Jakarta Convention Centre. Tapi Vina memang patut mendapat pengakuan bahwa dia salah satu yang terbaik, bahkan penyanyi cantik dari negeri jiran Malaysia, Sheila Madjid, juga menyempatkan diri hadir dan sedikit diajak bernyanyi di atas pentas oleh Vina bersama dengan Harvey Malaiholo.

Viva Vina!!
 
posted by Hedi @ 12:53 AM | Permalink | 8 comments
Saturday, February 18, 2006
Hujan Mencuci Motor
Saya gak pernah mau menyebut kata sial saat merasa rugi waktu mengalami gangguan alam. Entah sudah berapa kali, kita selesai mencuci mobil atau motor, setelah itu turun hujan. Peristiwa seperti itu saya alami kemarin ketika pulang dari kantor.

Merasa siangnya cerah dan panas terik, saya yakin bahwa malam tak akan turun hujan. Situasi itu membulatkan tekad saya untuk mencuci motor di tengah perjalanan pulang. Tapi cuaca memang cepat berubah, karena saat motor telah selesai dicuci dan sedang dikeringkan, muncul bunyi geledek.

Saya sudah khawatir akan turun hujan dan juga pasrah. Apa yang saya khawatirkan akhirnya kesampaian. Belum ada 10 menit melanjutkan perjalanan, hujan pun turun dengan derasnya disertai angin kencang dan petir.

Saya hanya menarik nafas karena harus rela motor yang sudah bersih, kembali kotor karena hujan. Sebenarnya tidak terlalu kotor juga karena hujan deras membuat noda tanah yang menempel di bagian rantai, roda, atau bagian bawah motor menjadi cepat hilang.

Untung cuma motor yang biaya cucinya gak semahal mobil, itu yang membuat saya juga tak mau menyebut sial. Hujan turun, berhenti di halte, pakai mantel, lanjutkan perjalanan hingga sampai dengan selamat di rumah.
 
posted by Hedi @ 10:19 PM | Permalink | 2 comments
Tikus Kantor PSSI

Selepas kerja, seorang teman datang berkunjung. Cerita ngalor ngidul, topik bahasan sampai pula ke sepakbola negeri ini. Silat lidah akhirnya berujung di PSSI, sebuah organisasi (yang katanya) bertanggung jawab terhadap kemajuan sepakbola kita. Dia sangat yakin PSSI itu lebih banyak tikus kantornya ketimbang orang ahlinya.

Yang jadi keyakinannya boleh jadi benar. Saya sendiri sudah malas sebenarnya kalo ngomongin PSSI. Selain percuma, buang-buang tenaga, saya juga punya pengalaman negatif soal itu. Mantan pemain nasional tahun 80-an pernah protes pada saya setelah membaca tulisan (kritik) saya soal liga domestik. Katanya, tak perlu ngurus liga lokal kita, lebih baik nulis berita lain saja. Alhasil, sampai sekarang saya tak pernah lagi nulis artikel soal sepakbola nasional, kecuali berita, itu pun sangat jarang.

Tapi waktu ngobrol dengan teman kemarin, saya merasa perlu berbicara soal bagaimana rusaknya lembaga PSSI. Dari sekian banyak lembaga yang terlibat korupsi di Indonesia, mungkin PSSI bisa dibilang salah satu yang terbaik meski sulit membuktikannya.

Bukti virtual mungkin bisa dilihat dari produk-produk mereka yang cacat peraturan dan kebijakan. Dari urusan laporan keuangan yang tak pernah ada, sponsor, sanksi disiplin, dan format kompetisi.

Perusahaan burger McDonnald sampai sekarang merasa jengah kalo diminta untuk mensponsori kegiatan sepakbola lokal. Salah seorang brand manajernya mengatakan trauma karena dana mereka pernah menguap saat melakukan kerjasama pembinaan futsal dan sepakbola anak-anak.

Perusahaan tepung Bogasari juga sebenarnya antara ingin mundur dan maju terus. Salah seorang petingginya pernah berucap bahwa biarkan Bogasari sendiri yang mengatur roda kompetisi usia remaja apabila PSSI (dinilainya) tak becus.

Urusan sponsor di manapun pasti melibatkan dana besar, apalagi untuk skala lembaga seperti PSSI. Itu baru dana, belum urusan manajemen sponsor di liga. Untuk kompetisi tahun kemarin dan juga sekarang, kompetisi yang masih didukung perusahaan sigaret raksasa, Djarum, tetap saja lebih banyak sisi negatif untuk pembangunan profesionalitas liga dan klub.

Konon, memang "bola" dipegang Djarum karena mereka baru akan menyerahkan segalanya di detik-detik akhir menjelang bergulirnya kompetisi. Dengan situasi itu pasti PSSI tak bisa berkutik. Tetapi kebijakan itu justru menyulitkan langkah klub, belum lagi klub peserta liga 90 persen milik pemda yang akhirnya menggunakan dana APBD untuk mengikuti kompetisi.

PSSI memang lucu dan layak mengisi acara lawak di televisi kita. Dana subsidi sponsor yang dibagi rata ke seluruh klub hanya berkisar antara 200 - 300 juta rupiah per klub. Dengan dana itu, PSSI dan Djarum menguasai spot iklan di pinggir lapangan stadion dan kostum pemain. Padahal, jika klub dibebaskan mencari sponsor sendiri, mungkin dana minimal 1 miliar bisa diperoleh. Tetapi mana mungkin sponsor mau mendukung klub, wong spot iklannya nyaris tak ada.

Uniknya, PSSI mewajibkan klub mengikuti kebijakannya jika tak ingin dicoret dari kesertaan liga. Arema Malang, contohnya, mereka masih beruntung mendapatkan sekitar 10 miliar dari sponsor meski spot di pinggir lapangan sudah habis disikat PSSI.

Kompetisi di Indonesia selalu berubah-ubah formatnya. Dulu yang pernah satu wilayah, kini terbagi lagi menjadi dua wilayah. Alasan PSSI, karena banyak klub yang keberatan soal ongkos kompetisi. Lho, dulu mereka bilang format satu wilayah adalah untuk menyaring klub-klub berkualitas, hukum rimba, karena memang itu esensi kompetisi.

Tapi PSSI ngotot mengubah format. Banyak teman-teman saya bilang, perubahan format itu didukung dana yang jumlahnya mencapai miliaran. Dana berasal dari klub-klub yang terkena degradasi dan kalo diubah formatnya menjadi dua wilayah maka kewajiban degradasi mereka jadi menguap.

Teman saya bilang dana kompetisi selama semusim bisa mencapai 2 miliar rupiah dan kalo mereka setor ke PSSI sebagai dana suap toh menjadi sama. Dua manfaat sekaligus bisa diambil, tak perlu main di divisi satu dan tetap di divisi utama.

Kasus hukuman Persebaya yang awalnya diskorsing tak bisa aktif selama setahun di sepakbola nasional karena mogok main, akhirnya juga dianulir PSSI sendiri. Hukuman akhirnya berubah menjadi turun ke divisi satu. Ini adalah misi sukses Persebaya yang "rajin bergerilya" melakukan lobby kepada PSSI. Tentu bukan hanya lobby, tetapi juga disertai angpau yang pasti jumlahnya tak kecil.

Ah...sudah terlalu panjang...sekali lagi percuma saya katakan kepada teman saya. Toh PSSI atau pelaku korupsi di negeri ini sudah kebal. Berapa banyak media nasional yang terus menulis kebobrokan mereka, tetapi tetap saja operasi bawah tanah tak pernah terhenti. Seperti tikus yang menyusup melalui tanah dan saluran air kotor kemudian masuk ke rumah dan menggerogoti barang-barang seenaknya.
 
posted by Hedi @ 8:32 PM | Permalink | 1 comments
Tuesday, February 14, 2006
A1GP, Tukang Tahu dan Local Hero
Nonton pagelaran A1GP Indonesia di Sentul kemarin cukup menghibur, walaupun cuma dari tv. Situasi negara yang sedang sulit (bener gak?) ternyata gak mempengaruhi tribun penonton yang sesak.

Indonesia sedang terpuruk nyaris di semua sisi kehidupan, jadi gak heran kalau penonton (termasuk saya, mungkin) berharap local hero, Ananda Mikola, berprestasi bagus. Indonesia butuh jagoan untuk mengangkat nama negara.

Tapi sayang, Ananda kembali mengalami tabrakan, entah yang keberapa di A1GP, seperti halnya di seri sebelumnya, Durban, Afrika Selatan. Alhasil, Ananda gagal menempati posisi 10 besar di Sprint Race dan Feature Race.

Selama ini citra balapan kelas atas hanya mengundang penonton yang berasal dari kelas menengah ke atas. Tapi buat tukang tahu asongan, gak peduli. Si abang dengan lenggang terus berjalan mengitari tribun sambil menawarkan dagangan. Saya jamin, kelompok tahu asongan cuma ada di Sentul, tak akan ada luar Indonesia...hahaha.

Soal balapan, saya juga senang melihatnya karena Sentul yang konon secara teknis tak terlalu sulit dilahap, justru banyak menimbulkan insiden meski tak parah. Balapan pun harus diselingi dengan keluarnya safety car sebanyak tiga kali.

Mungkin faktor perdana yang membuat banyak pembalap tak kenal betul karakter Sentul yang sebenarnya mirip Monza di Italia. Terbukti yang kenal betul dengan sirkuit ini bisa meraih prestasi optimal, antara lain Alex Yoong dari Malaysia yang sudah akrab karena sering balapan di sana sewaktu masih mengendarai Formula Asia.

Lalu kenapa Ananda yang juga kenal Sentul luar dalam gagal? Mesti diakui, Ananda kalah pengalaman dari Yoong yang sudah pernah ikut Formula Satu. Belum lagi Yoong dapet dukungan maksimal dari sponsor Proton. Adanya sponsor besar membuat tim bisa menyewa montir tetap, tak seperti Indonesia yang montirnya gonta ganti karena masih mendapat fasilitas dari penggagas A1GP.
 
posted by Hedi @ 10:25 AM | Permalink | 4 comments
Seks di Area Publik
Ada-ada saja orang bule satu ini. Situasi bebas yang dianut banyak negara-negara bule,ternyata masih kurang disyukuri.

The Sun Online Inggris menulis laporan tentang seorang wanita yang ditangkap polisi karena melakukan kegiatan seks di area publik sebanyak tiga kali dalam waktu 30 menit!!!

Yang lebih parah, kegiatan tak pantas itu dilakukan di kawasan ibadah. Pertama, dilakukannya di sebuah biara bernama Selby, North Yorks. Sang wanita bernama Randy Alana May kemudian disuruh pulang oleh polisi.

Tapi 15 menit kemudian, May dan pasangannya kembali melakukan "ritual" itu, kali ini bersandar di tembok biara tersebut.

Setelah kembali disuruh pulang, May muncul lagi dan melakukannya di area parkir gereja.

Karena tak mengindahkan tindakan persuasif polisi, May dan pasangannya pun digelandang ke kantor polisi. Dari proses verbal, May hanya dikenakan denda 50 pounds. Uniknya, nama pasangannya tidak disebut dan tidak mendapat hukuman namun hanya peringatan.

May dalam argumennya mengatakan bahwa dia tak bisa menahan libidonya sampai di rumah...wah...kan sudah disuruh pulang sampai dua kali.

Atau mungkin ini yang dinamakan exhibitionism? Hanya May dan para ahli yang bisa memastikanya...
 
posted by Hedi @ 10:06 AM | Permalink | 3 comments
Sunday, February 12, 2006
Joki
Ujian penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) ternyata masih saja semrawut. Setelah proses pendaftaran diwarnai kerusuhan seperti yang terjadi di Jawa Barat, proses ujian juga diramaikan dengan sogokan dan joki, ah ini sih biasa.

Sogokan senilai 40 juta rupiah terjadi di daerah Nusa Tenggara Barat, walaupun kemudian belum diketahui siapa pelaku dan penerimanya. Kasus joki adalah yang paling seru, maklum yang namanya ujian di manapun pasti ada joki, kecuali ujian SIM :D

Joki sebenarnya berarti bagus kalau melihat artinya di situs answers.com, maklum, joki adalah orang yang jago mengendarai entah kuda atau kendaraan balap. Tapi bisa juga joki jadi alat kecurangan seperti yang sekarang terjadi.

Di Sumatera Barat, sampai ada dua joki yang jenis kelaminnya wanita dan bekerja di pemerintahan, walah. Sang joki mungkin akan kehilangan pekerjaan dan langsung masuk penjara, tetapi buat CPNS, sudah nganggur makin hancur karena juga akan dibui.

Tapi yang lebih kasihan lagi adalah kegagalan CPNS dalam ujian hanya karena pensil 2B yang digunakan palsu. Kekurangan dan keterbatasan wawasan membuat CPNS itu jadi tak paham bahwa pensil palsu akan mempengaruhi peluang untuk lolos ujian. Mereka yang menggunakan pensil palsu adalah untuk tenaga honorer.

Itulah nasib mereka yang sedang mencari kerja...saya cukup prihatin.
 
posted by Hedi @ 4:02 PM | Permalink | 2 comments
Saturday, February 11, 2006
Astrada dan Sepakbola di TV
Akhirnya bisa juga kembali menekuni blog, setelah kerja padat seperti jaman rodi dulu berjalan sejak akhir Januari sampai awal Februari. Capek itu sudah pasti, tapi kepuasan batin juga ada karena sadar bahwa ternyata saya bisa!!!

Akhir Januari, nyaris kurang tidur karena harus kerja spartan pagi-malam. Pagi sampai siang bantu Jefry pegang mixer editing dan recording. Beberapa waktu lalu pernah juga bantu dia, tapi ngurusin kamera video, dan sekarang ganti jadi asisten sutradara, hehehe.

Malamnya, harus kerja di habitat asli, divisi redaksi. Terpaksa harus rela begitu karena event di luar berlangsung sejak Jumat sampai Minggu dan itu adalah jadwal setia industri sepakbola yang harus diliput beritanya. Jadilah, pagi untuk event dan malam untuk berita sepakbola.

Uniknya, waktu siang adalah merekam sebuah event futsal dan paduan suara yang dibuat sama organisasi gereja. Jadi, Jumat sampai Minggu, full ngurus sepakbola.

Tapi, ngomong-ngomong soal sepakbola, ada keprihatinan sedikit mengapa banyak orang-orang yang bergerak di bidang pemberitaan atau media kurang memahami materi. Mulai dari reporter yang ribut sendiri dengan komentator, tidak menguasai materi, sampai berita yang tidak akurat.

ANTV melakukan kesalahan fatal di acara siaran langsung Liga Indonesia saat reporternya bersilang pendapat dengan komentator. Mungkin sang reporter lupa bahwa dia tak perlu mengomentari pertandingan, toh sudah ada komentator yang memang dibayar untuk melakukan itu, sehingga silang pendapat mengenai pertandingan bisa dihindari.

Yang kedua, ANTV gagal menampilkan komentator yang akurat saat menyiarkan pertandingan Piala Italia. Si pelaku salah menganalisa seorang pemain yang dianggap belum tampil. Padahal subyek si komentator justru sudah tampil sejak menit awal.

INDOSIAR pun serupa saat reporternya salah mengajukan pertanyaan soal pemain di sebuah siaran langsung Liga Italia. Seorang pemain yang berada di klub lain, ditanyakan apakah akan tampil bersama tim yang akan main. Beruntung sang komentator pandai berkelit dalam menganulir kesalahan fatal tersebut.

Tapi itu semua sebuah kewajaran jika mau ditelaah, maklum stasiun TV mungkin belum siap dengan sumber daya manusianya, apalagi di jaman sulit seperti ini, padahal program sudah berada di jalur on-air. Namun lain lagi jika kesalahan sudah berada di muatan materi. Jika itu terjadi, patut dipertanyakan bagaimana pengawasan redaksionalnya terhadap materi berita.

SCTV membuat berita yang salah ketika menayangkan berita kekalahan Arsenal dari Wigan Athletic di Piala Liga Inggris (Piala Carling). Pertandingan Carling diadakan sekali dan saat Arsenal kalah berarti dia sudah pasti tersingkir. Namun penulis berita SCTV justru mengatakan bahwa Arsenal masih punya peluang untuk lolos karena akan tampil di kandang sendiri pada laga kedua???

Redaksional TV kita, khususnya untuk segment olahraga, memang terlihat masih kacau. ANTV yang sudah terbiasa menyiarkan berita olahraga pun kerap melakukan kesalahan. Dua hari yang lalu, ANTV menampilkan editing gambar berita yang tidak pantas on-air. Sebuah berita pertandingan hanya menampilkan gambar gol yang sudah terjadi (bola sudah berada di dalam gawang), tanpa ada pemandangan proses terciptanya gol.

Buat saya, lebih baik jika kita mengatakan tidak sanggup saat ditawarkan pekerjaan tertentu yang berada di luar kemampuan, untuk menjaga hasilnya di luar perkiraan. Atau kalau memang sanggup, kerjakan dengan baik.
 
posted by Hedi @ 9:08 PM | Permalink | 3 comments