Monday, October 02, 2006
Pencerahan tak Bersambut
Sebuah media massa pada dasarnya memiliki tanggung jawab untuk memberi pencerahan kepada masyarakat luas. Pencerahan dalam berbagai bentuk mengenai hal-hal yang sebaiknya diketahui publik (tapi dunia artis tak termasuk kategori perlu - infotainment sucks!).

Stasiun Trans TV termasuk salah satu media yang rajin melakukan pencerahan kepada pemirsa. Acara mereka, Reportase Sore, selalu berisi investigasi terhadap berbagai hal (negatif), kebanyakan produk makanan. Yang terbaru, trans mengungkap kandungan kimia berbahaya yang digunakan di produk makanan/minuman untuk berbuka puasa.

Disebutkan di acara itu kemarin, ada cendol, kolang kaling dan pacar cina (kenapa harus cina ya :p). Tiga makanan bahan baku itu menggunakan pewarna buatan agar tampilan menjadi menarik konsumen. Yang jadi masalah, pewarnanya adalah bukan untuk makanan, melainkan untuk tekstil!! Bisa diperkirakan betapa bahayanya.

Sebenarnya, proses (rekayasa) seperti di atas sudah berlangsung lama. Modus curang pedagang untuk mengelabui kesan alami hampir terjadi di semua produk makanan. Masih ingat dengan produk tahu, ikan dan mie yang menggunakan zat kimia formalin?

Acara seperti itu sebenarnya membuat saya senang. Tapi terbersit juga rasa tidak puas karena selalu pedagang kecil yang diinvestigasi. Beberapa pengusaha besar produk makanan juga tak jarang melakukan modus curang dalam produknya. Banyak produk bermerek di pasaran yang juga mengandung zat pewarna dan zat pengawet berbahaya. Mie instan yang digemari publik kita pun sudah bukan rahasia menggunakan pelezat buatan (MSG).

Namun selama ini nyaris tak pernah ada laporan investigasi media mengenai hal itu. Saya mahfum sangat sulit untuk mendekati narasumber dari perusahaan besar, apalagi mereka yang melakukan kecurangan. Maklum saja, perusahaan besar punya kepentingan terhadap merek dagangnya sehingga alergi terhadap pers. Berbeda dengan pedagang kecil yang produknya belum tentu punya merek tetap.

Tapi kadangkala, sebuah usaha pencerahan yang diakhiri dengan himbauan untuk tidak lagi mengonsumsi produk tertentu akan dilupakan masyarakat. Mie kuning berunsur formalin di pasar-pasar yang dulu sempat menghilang karena reportase Trans, kini sudah muncul kembali. Dalam kondisi lapar, ketakutan masyarakat akan efek negatif zat kimia bisa terlupakan. Ini memang terkait sifat permisif masyarakat kita. Jangan lupa ini pun hanya himbauan.

Sama seperti bahaya merokok yang selalu didengungkan, tapi saya tetap saja menghisapnya.
Atau kenyang dulu, baru mikir. Komen dulu, baru baca :p
 
posted by Hedi @ 2:21 AM | Permalink |


20 Comments:


At 5:25 AM, Blogger Ely

semuanya memang tergantung pada niat individu masing2, tapi mewujudkannya memang nggak mudah, faktor kebiasaan , kondisi masyarakat itu sendiri serta lingkungan juga turut andil mempengaruhi.

kenyang dulu baru mikir... nyindir saya ya? he..he..

 

At 8:13 AM, Blogger dian decante

komen dulu baru baca kakkakkak...kadang aku geli, komennya gak nyambung. abis baca judulnya doank...kadang maksa.

kayak di singapore and disini donk..iklan rokok dilarang. peringatan di rokok harusnya gede2x ! *sambil mikirin nasib ponakan and family di indo...terkena asap rokok...perokok pasif

 

At 8:39 AM, Blogger Bangsari

komen dulu baru baca? wakakak...

soal kasus-kasus, emang sudah jadi khas indonesia banget. setiap ada kasus pasti ramenya cuman sebentar, trus lupa semua.

 

At 9:17 AM, Anonymous tukang kebon

tipikal yah....*eits klo ini eke baca dulu bru koment*

 

At 11:34 AM, Blogger mimimama

eh kebetulan saya juga pas nonton itu investigasi cendol. syukur lah ada acara beginian, walopun sejauh ini transtv masih menangani kasus2 produsen kecil. moga2 bisa jadi inspirasi pihak lain bikin program2 macem gitu juga. lha untuk negur perusahaan besar, mungkin juga perlu entitas lebih besar dari transtv. moga2 posting ini banyak yg mbaca ya mas :)

 

At 11:42 AM, Anonymous paman tyo

walah, kalo nyangkut keamanan dan kesehatan makanan, kita memang palng gampang lupa. fungsi blog antara lain ya ngingetin itu. ya kan sam?

ayo brenti ngerokok to sam... hahaha

 

At 12:39 PM, Blogger Yati

yup, seperti juga cerita tikus itu. bagusnya acara tipi, ada gambar dan suara, jadi mayan ketahuanlah kalo ada rekayasa.

hehehe....pernah nyobain berhenti mikir sejenak? dunia serasa brenti seketika

 

At 4:07 PM, Anonymous obakasan

yah memang begitu, rakyat kecil lagi yang jadi korban. bisa jadi kan berita ini dibuat biar perusahaan2 besar yang untung. sedikit "konspirasi" lah~~~

walaupun memang benar para pedagangkecil banyak yang memakai bahan makanan tidak sehat di dagangannya.

 

At 5:12 PM, Blogger venus

bukan cuma makanan tradisional yg sampeyan sebutin tadi, sam.

udah denger belom, kalo produk2 diet yg keliatannya lebih sehat ternyata juga mengandung zat2 yg berbahaya buat kesehatan? nama kerennya aspartame kalo ga salah.
diet coke, tropicana slim low fat sweetener, diet pepsi, you name it. hampir semua ada aspartamenya.

rokok? nah iniii...hehehe...

 

At 7:21 PM, Anonymous gaussac

waduh tadi saya buka pake cendol...waduh perut saya sekarang kok jadi mules ya setelah baca blog ini...
permisi dulu ah..:D

 

At 4:36 AM, Anonymous masyarakat kita

emang pelupa dan amat pemaap ...:)

 

At 11:44 AM, Blogger mpokb

orang cenderung cuek karena dampak negatif bahan2 begini biasanya baru terasa setelah terakumulasi dalam tubuh. terus terang aye termasuk yg mudah tertarik pada makanan karena bentuk dan warnanya.. uh, sekarang kudu makin hati2 deh..

 

At 3:01 PM, Anonymous chocoluv

wah, udah terlanjur saya baca, ternyata boleh komen tanpa baca :D
hehehe,,,
kalo nonton reportase itu, bisa2 saya ga doyan makan apa2 :D

 

At 8:36 PM, Blogger Muhammad Mufti

Dari dulu yang jadi korban tetap aja rakyat kecil..... Rakyat kecil terkenalnya cuma pada masa kampanye pemilu.

 

At 1:24 AM, Blogger Sisca

Mas,sisca selalu baca dulu dgn seksama...baru komen :)

Benar..yg sll jd korban, adalah mrk yg lemah..pdhal kalo pengrajin makanan berpadu dibina, dikelola dengan baik... hasilnya pasti saling menguntungkan.

Makan tenang, rejeipun lancar.

 

At 8:43 AM, Anonymous yoyok

hmm...ya,hanya pedagang kecil ya
memang susah masuk kedalam korporasi begitu, bisa2 di tuntut pencemaran nama baik

tapi waktu itu ada investigasi penjualan gelap satwa dilindungi, cukup bagus, oknumnya justru petugas pemerintah yang seharusnya melindungi

Hehehe..korporasi susah ditembus tapi pemerintahan bisa..tanya kenapa ? :D

 

At 12:06 PM, Anonymous ndoro kakung

emang transtv beraninya cuma sama orang kecil ya...hiks, kasian orang kecil

 

At 10:49 AM, Blogger -FM-

selain karena susahnya menembus nara sumber perusahaan, juga kendala yang berkaitan dengan sifat laporan televisi yang sifat deadline-nya daily. bahkan untuk mingguan saja, sudah harus siap di meja editor jauh2 sebelumnnya. belum lagi harus menyiapkan gambar2nya untuk disetor ke video editor. wah, lebih panjang lagi tuh urut2annya biar bisa tepat waktu on air di tivi.

kalau dikasih waktu lebih luang, seharusnya sih bisa mencover narsum perusahaan juga. seharusnya sih begitu.

 

At 4:39 PM, Blogger Rara Vebles

Sedihnya lagi.. cerita ini hanya sebagian "keccill" dari kondisi yang ada di lapangan..

Coba sering tengok penjaja makanan di sekolah2 - SD-SD/SMP negeri.. miris.. siapa yg seharusnya membekali penjaja/pedagang2 itu.. untuk bisa menjual makanan yg "layak" untuk anak2.. SEDIHH..

Yg bisa saya lakukan hanya menghimbau orang2 dekat untuk tidak sembarangan jajan "makanan beracun" ..

 

At 12:32 PM, Anonymous aribowo

selain punya kepentingan dengan merek dagang, 'upeti' yang dibayar oleh persahaan besar juga cukup buat tutup mulut semua pihak yang terkait