Tuesday, September 26, 2006
Osama bin Tifus
"Eh kamu sudah denger belum kalau Osama bin Laden meninggal?" tanya Paijo sambil memberesi tumpukan bukunya.

"Ah, itu berita basi, lagi pula aku ga percaya," jawab Paimin.
"Kok bisa dibilang basi, kan baru beberapa hari yang lalu?"

"Maksudnya berita ga mutu gitu lho. Lagi pula bukan aku saja yang ga percaya, banyak juga kok. Lha kamu percaya ga?" tukas Paimin.

"Wah bagaimana ya, kalo aku sih fifty-fifty," kata Paijo yang sekarang sudah duduk berhadapan dengan Paimin.

"Gaya kamu, gitu aja pakai fifty-fifty. Yang tegas dong, percaya atau ga? Gitu aja kok repot," ujar Pamin sewot.

"Tenang Min, jangan nafsu gitu. Aku setengah-setengah karena ga terlalu paham aja. Lagipula ini kan urusan politik. Aku ga nyambung sama yang namanya politik. Nah, kalo kamu, kenapa ga percaya?"

"Iya politik, tapi aku juga ga ngerti soal itu. Tapi buat aku cukup aneh. Bin Laden itu katanya orang kaya, usahanya maju sehingga bisa punya dana buat ngebom di mana-mana. Cuma, orang yang punya duit banyak kok bisa mati dengan cara sepele seperti kena tifus gitu," kata Paimin sambil menerawang ga jelas.

"Bener, harusnya sih Bin Laden yang katanya pinter pasti ngerti kalo sakit atau badannya ga enak harus panggil dokter. Soal uang kan dia ga masalah ya. Wong katanya dia juga bukan orang pelit kok," sahut Paijo yang kelihatan mulai buka sikap buat setuju dengan kawannya sekampung itu.

"Itulah sebabnya kenapa aku ga setuju. Aku malah makin condong bahwa Bin Laden itu ga eksis. Itu tokoh karangan Amerika aja. Yang sering kita lihat di tv atau koran itu belum tentu Bin Laden, walaupun ada kemungkinan beneran juga."

"Sebentar...sebentar, gimana sih kok ada karangan segala?"

"Iya, bisa saja Bin Laden dibuat Amerika supaya mainan mereka langgeng. Amerika kan selalu cari mainan baru. Dulu mereka mainin komunis, sekarang ya teroris. Repotnya, komunis dengan teroris lain bentuk. Komunis bisa diwakili negara, lha teroris kan ga bisa. Makanya dibuat ada tokoh A atau B gitu. Kita ini kena diyakinkan bahwa si A, B, C dan sebagainya teroris."

"Lha berarti semua kegiatan teroris itu rekayasa? Termasuk kejadian WTC atau Bom Bali?"

Paimin menghela napas sebelum menyeruput kopinya dan menyalakan rokok. "Yang namanya teroris pasti ada, ga semua bohong. Tapi yang kamu sebut tadi mungkin saja rekayasa. Mungkin lho ya. Soal WTC misalnya, menurutku kok ganjil, radar-radar militer Amerika yang hebat itu ga bisa mendeteksi dini ada pesawat slonong boy ke New York atau ke Pentagon.

"Bikin bom dan meledakkannya dengan baik bukan kerjaan enteng lho. Militer saja harus sekolah lanjutan dan orangnya pilihan. Selain jenius, mental psikologisnya juga harus bagus. Aku punya contoh bagus bahwa kerjaan yang biasa dilakukan militer ga gampang dikerjakan oleh sipil. Itu lho pembunuhnya bos Asaba yang pangkatnya Kopral Dua. Dia itu salah satu penembak terhebat marinir."

"Gitu ya. Jadi kerusuhan seperti di Poso itu juga rekayasa ya, militer juga yang buat?"
"Menurutku iya. Salah satu contohnya ya itu, pelakunya dari militer, polisi."

"Lha, trus untuk apa mereka bikin rekayasa kok model kerusuhan atau serangan teroris gitu. Kenapa mereka ga bikin rekayasa yang lebih bagus, lebih positif?" lanjut Paijo yang sudah sibuk lagi.

"Wah kalo soal motivasinya aku ga ngerti. Mungkin kalo Amerika supaya senjatanya laku terus. Kalo di Indonesia, aku ra ngerti blas, Jo," ucap Paimin.

Suasana di kamar sempit itu hening sesaat. Paimin sudah asyik dengan korannya, sementara Paijo sedang sibuk dengan komputernya. Tapi tak berapa lama, Paijo nyeletuk lagi.

"Lalu, kenapa sekarang Bin Laden diberitain meninggal ya Min? Mau apalagi Amerika itu, jangan-jangan mereka sudah punya mainan baru. Lho, Min...Min?" Paijo melongo karena orang yang diajak ngomong sudah ga ada di kamar, sudah pergi memenuhi "panggilan alam" di kamar mandi.
 
posted by Hedi @ 9:04 PM | Permalink | 19 comments
Friday, September 22, 2006
Mohon Maaf
Meski pernah merasakan berpuasa penuh selama dua Ramadhan ketika masih kuliah dulu, terus terang saya bukan pemeluk agama Islam. Banyak (kawan maya/blogger) yang mengira saya orang muslim, padahal di KTP saya tertera pemeluk agama Kristen Protestan.

Tapi tak ada masalah (dengan perkiraan kawan semua). Memang saya yang tak pernah memberi tahu bahwa kita berlainan iman kepercayaan. Namun, melihat beberapa pesan yang hadir di blog ini jelang bulan Ramadhan tahun ini, maka saya yang seharusnya menyatakan "SELAMAT BERPUASA" kepada anda semua yang akan menjalankannya.

Saya hanya memohon maaf apabila belum bisa jalan-jalan ke rumah sampeyan semua, termasuk menaruh pesan di sana. Pekerjaan yang padat di minggu ini membuat aktivitas menghela nafas jadi prioritas kala ada waktu longgar. Mohon tegur saya, jika nanti ada perilaku, ucapan, atau tulisan yang membuat puasa anda di kemudian hari terganggu.

Sekali lagi, Selamat menjalankan ibadah Puasa. Semoga bulan Ramadhan tahun ini benar-benar bisa meningkatkan kualitas hidup kita di mata Tuhan, Amin.
 
posted by Hedi @ 6:33 PM | Permalink | 14 comments
Wednesday, September 20, 2006
Sibuk
Bob Munro berjuang sekuat tenaga supaya semua pihak terpuaskan, ya keluarganya dan juga pekerjaannya. Itu inti film dengan nuansa satir berjudul RV (Recreational Vehicle). Tokoh Munro sendiri diperankan oleh aktor kawakan Robin Williams.

Kesibukan di kantor membuat Munro begitu sulit untuk berkumpul secara kualitas dan kuantitas dengan keluarganya. Idenya untuk bekerja secara diam-diam saat melakukan rekreasi dengan keluarganya, justru membuat segalanya berantakan. Meski kemudian ada berkah di bagian akhirnya.

Situasi seperti ini seringkali dialami para blogger. Dengan tumpukan pekerjaan, niat menulis blog jadi terbengkalai, padahal semangat dan ide di kepala sedang menjulang tinggi. Tapi tak jarang juga saat waktu senggang datang, niat untuk menulis blog justru hilang. Mati gaya, kata anak gaul. Kram otak, kata rapper Iwa K. Capek.

Tak heran orang seperti Munro mengambil jalan tengah. Menggabungkan keduanya dalam masa yang sangat sempit. Ekses yang muncul kemudian akan diurus kemudian pula.

Sebenarnya, apa definisi sibuk? Setiap saat atau hari sehingga nyaris tak ada waktu untuk hal lainnya di luar pekerjaan? Menurut saya, sibuk bersifat temporary, sementara, dan tidak terus-terusan.

Dalam urusan kerja, sibuk atau tidak, harus dilihat sejak pertama. Sibuk itu berhubungan dengan waktu sempit, artinya ada tenggat waktu. Dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dan seterusnya. Jika lebih luas dan tidak memiliki tenggat waktu, maka definisinya adalah tingginya muatan kerja seseorang.

Katakanlah, wartawan. Profesi ini akan berhubungan dengan tenggat waktu. Buat saya tak bisa dibilang sibuk, tetapi muatan kerjanya yang tinggi. Hanya saja, kata sibuk digunakan untuk menjelaskan bahwa kita sedang tak ada waktu senggang. Apa boleh buat, istilah itu yang sudah umum, meski fakta aslinya belum tentu benar. Sibuk bagi wartawan akan terjadi saat tenggat waktu sudah mepet naik cetak atau upload.

Hal yang kurang lebih sama dialami oleh akuntan, misalnya. Di saat mendekati tutup tahun keuangan, dia akan sangat sibuk karena berbagai laporan harus segera dibungkus. Tapi bukan berarti di luar masa itu, dia bisa melenggang seenaknya. Pekerjaannya memang bermuatan tinggi, meski tak setinggi di akhir masa keuangan.

Makanya kemudian ada saja bentuk protes seorang kawan; "Kok sibuk terus sih?" Dalam hati kita menjawab tidak. Jika begini, artinya muatan pekerjaan kita sangat penuh. Nyaris tak ada waktu senggang. Sibuk memang tak mungin terus-terusan.

Jadi, mau tidak mau, ambil saja cara Munro. Sedang sibuk, tapi ingin menulis posting. Lakukan saja berbarengan. Merasakan adrenalin memuncak karena melakukan dua hal yang sama beratnya kadang mengasyikan. Seperti tulisan ini, yang di-upload saat beban kerja sedang memuncak.
 
posted by Hedi @ 9:24 AM | Permalink | 19 comments
Thursday, September 14, 2006
Orang Kaya
Secara umum, orang tak mau hidup dalam kekurangan. Rata-rata orang pasti ingin hidupnya berkecukupan, makmur, atau kasarnya kaya. Makanya tak heran, kalau di Indonesia, praktek korupsi begitu tinggi. Namun bagaimana kalau sudah kaya. Bersedia diumumkan jadi orang yang punya harta banyak?

Aburizal "Ical" Bakrie, sang menteri yang kerjanya mengurus kesejahteraan masyarakat ini, berusaha keras menolak bahwa dirinya punya harta sebanyak klaim majalah Forbes. Menurut majalah terkemuka itu, Ical memiliki harta kekayaan sebesar 1,2 miliar dollar dan berpredikat terkaya nomer enam di negeri ini.

Apa yang dilakukan Ical dalam menganggapi kabar itu adalah praktik umum. Dulu, Soeharto juga demikian. Bahkan mantan penguasa Indonesia itu selalu tertawa jika dianggap kaya raya. Beberapa konglomerat yang namanya selalu masuk daftar kaya itu juga kerap membantah.

Lalu, kalau ada penolakan berarti Forbes bohong dong?. Tidak mesti. Forbes bukanlah majalah kelas teri. Majalah asal Amerika Serikat ini memiliki daftar pengiklan yang berjibun atau punya waiting list. Tentu dengan sejumlah pengiklan dan investor itu, bagaimana mungkin Forbes bikin berita bohong. Logikanya, mereka harus bertanggung jawab terhadap pelanggannya yang orang-orang terpandang dan pengiklan. Kalau mereka bohong, pelanggan dan pengiklan itu akan lari. "Untuk apa saya dapat berita sampah?"

Saya tak tahu bagaimana dan dengan metode apa Forbes memengumpulkan data orang kaya di berbagai tempat tersebut. Tapi dalam situasi umum, setiap orang punya kesempatan untuk menjawab atau menggugat jika namanya digunakan dalam bentuk yang tidak/kurang nyaman. Hal ini berlaku pula untuk menanggapi berita media.

Jika Ical atau siapapun tidak senang dengan berita Forbes itu, atau menilainya bohong, mengapa tidak melakukan hak jawab langsung. Bisa juga dengan mengajukan tuntutan, misalnya. Selama ini yang dilakukan orang-orang dalam daftar hanya membuat komentar retorika. "Saya senang jika kekayaan saya sebanyak itu."

Apabila tak ada bantahan resmi, maka bukan Forbes yang bohong, tetapi orang-orang itu sendiri. Kalau anda jadi orang yang diberitakan Forbes, apa yang akan anda lakukan? Mengakui atau berbohong?
 
posted by Hedi @ 1:04 AM | Permalink | 26 comments
Sunday, September 10, 2006
SMS Premium
Bisnis SMS Premium yang punya tarif minimal Rp 2000 perak itu, sekarang sedang jadi sorotan. Setelah Pos Kota, Koran Tempo menyusul dengan laporannya di edisi cetak hari Minggu (10/9).

Bisnis ini memang sedang naik daun. Hampir seluruh media massa -- elektronik, online maupun cetak-- memiliki layanan ini. Tak peduli apakah itu media umum atau media dengan liputan satu bidang saja. Bahkan lembaga pelayanan umum pun punya program ini, contohnya bank.

Yang membuat bisnis ini laris seperti jajanan pasar karena memang peminatnya cukup banyak. Salah satu pihak yang pernah memegang rekor pendapatan terbesar dalam waktu sempit (1 menit) adalah Stasiun TV Indosiar sewaktu mengadakan program AFI.

Pengertian SMS Premium dan Mekanismenya

Program SMS seperti ini berbeda dengan SMS pada umumnya. Saat ini, jenisnya sudah sangat beragam. Ada berita, skor (pertandingan/lomba), profil figur publik/artis, kencan virtual (Chatting), humor, atau yang kini tengah ngetren adalah mencari ayat-ayat kitab suci atau ramalan. Seluruhnya bisa diperoleh melalui SMS.

Konsumen tinggal mengirim sebuah kata kunci yang sudah dipromosikan untuk sebuah layanan ke sebuah nomor yang biasanya memiliki angka digit empat buah. Setelah itu, konsumen akan menerima balasan (reply) sesuai permintaan.

Panjang muatan balasan biasanya tak akan lebih dari 160 karakter. Ini adalah jumlah karakter maksimal pengiriman dan penerimaan sms dalam sebuah ponsel, yang tak hanya berlaku untuk premium. Dalam lalu lintas SMS umum, jumlah ini pula yang berlaku. Jika lebih dari 160 karakter, maka karakter sisa akan terkirim melalui SMS berikutnya.

Daftar atau Tidak Terdaftar

Seiring dengan perkembangan, SMS premium akhirnya harus menggunakan proses pendaftaran. Dengan kata lain, konsumen diharuskan berlangganan untuk mendapatkan akses dan mengikuti layanan. Malangnya, proses pendaftaran tidak memiliki acuan baku atau standar. Ada yang menggunakan kata kunci "REG", "Daftar", atau "SUB". Ketiga kata kunci ini (keyword), digunakan untuk berlangganan. Sekali anda mengirim tulisan itu ke nomor tertentu, maka anda langsung dianggap sebagai pelanggan.

Sedangkan untuk berhenti berlangganan disediakan kata kunci "UNREG", "Stop", atau "UNSUB". Secara normal, setelah mengirim kata kunci tersebut, maka seorang konsumen tidak lagi dianggap sebagai pelanggan.

Ada pula kombinasi "REG ON" dan "REG OFF". Yang pertama untuk berlangganan dan yang kedua untuk berhenti.

Content Provider

Dalam sebuah layanan SMS premium, minimal terdapat dua pihak yang berada di belakang dapur. Yang pertama tentu saja pihak vendor seluler, misalnya Telkomsel, Pro XL, atau Indosat. Sementara yang kedua adalah Content Provider (CP).

CP inilah yang menyediakan dan bertanggung jawab terhadap seluruh muatan dan data yang dikirim via SMS ke pelanggan. Sementara vendor hanya bertanggung jawab soal teknis kirim mengirim dan tidak mengurusi soal isi sama sekali.

Biaya dan Keuntungan

Seperti diketahui, tarif minimal yang dikenakan dalam SMS premium adalah Rp 2000,- Keuntungan dari biaya ini tidak sepenuhnya dinikmati oleh CP, namun juga oleh vendor. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
  • Dari Rp 2000,- itu, pihak vendor lebih dulu mengambil jatah sms umum. Misalnya Rp 350,- Sisanya kemudian dibagi dua oleh vendor dan CP.

Fenomena Sedot Pulsa


Seperti yang diberitakan di koran Pos Kota dan Tempo itu, banyak pelanggan yang merasa tertipu atau dimanfaatkan oleh CP dalam bentuk pulsa. Layanan yang didapat tidak memuaskan, tetapi pulsa di kartu ponsel justru habis disedot.

Pada awalnya, layanan SMS premium tidak memerlukan proses langganan. Namun lama kelamaan, banyak CP yang setoran pendapatannya tidak memadai untuk membiayai ongkos server di vendor. Oleh karena itu vendor pun mewajibkan setiap CP untuk memiliki program daftar agar konsumen menjadi terikat.

Ini ada kaitannya pula dengan wajib setor keuntungan yang dibebankan kepada CP. Modus yang biasa terjadi, CP diwajibkan menyetor dalam jumlah tertentu. Tentu saja CP harus bekerja keras agar memenuhinya. Ini mirip dengan kondisi supir angkot yang harus memberi setoran kepada pemilik angkot.

Jika keuntungan yang diperoleh melebihi jumlah setoran, maka sisanya menjadi milik CP. Apabila kurang, maka CP harus merogohnya dari kantong sendiri untuk menutupinya. Besaran setoran juga tergantung kepada kelas rekening di vendor. Ada yang standar, premium, silver dan gold. Semakin tinggi tingkatannya, semakin tinggi pula jumlah setorannya. Kelas ini pula yang menentukan apakah CP tertentu bisa memiliki nomor akses pribadi atau tidak.

Tak heran di kemudian hari banyak modus ganjil yang dilakukan CP, khususnya jika CP itu tak jelas kredibilitasnya. Tapi kadang CP yang punya kredit bagus di mata publik pun tak lepas dari tindakan seperti itu (sedot pulsa).

Seorang rekan pernah kapok mendaftar program berita yang diadakan sebuah situs berita terkenal. Rekan saya itu seringkali menerima berita yang sudah basi atau mendapat berita yang sudah pernah dikirim sebelumnya. Dan jumlahnya pun tak terbatas!

Dalam peraturan yang ditetapkan vendor, setiap CP sebenarnya hanya diperbolehkan mengirim maksimal dua SMS dalam sehari. Ini jelas maksudnya, supaya pulsa orang tidak dieksploitir. Layanan yang disediakan juga seharusnya punya daftar pilihan waktu. Apakah layanan ingin dikirim setiap pagi dan sore atau sebagainya. Misalnya, layanan itu adalah skor pertandingan sepakbola (livescore), maka hanya dimungkinkan mengirim dalam bentuk Half Time (istirahat) dan Full Time (selesai). Namun entah mengapa banyak CP yang tidak melakukan ini.

Kasus yang dianggap merugikan konsumen ada pada urusan daftar dan berhenti. Seseorang sudah mengirim SMS untuk berhenti, tetapi layanan tidak berhenti dan tetap jalan terus. Mengapa bisa terjadi?

Menurut saya, ini ada hubungannya dengan komitmen bisnis CP. Program SMS premium menggunakan sebuah program yang cukup rumit. Setahu saya, hanya dibuat dengan bahasa komputer C++, sebuah bahasa yang cukup tinggi tingkat kesulitannya (mohon koreksi jika salah :D).

Karena berhubungan dengan lalu lintas data, maka celah gangguannya (crash) juga tinggi. Itulah sebabnya dibutuhkan orang khusus yang mengurusi teknik (technical support). Kontinyu, tanpa putus, 24 jam. Jika masalah teknis ada di vendor, maka itu urusan mereka dan CP tidak bertanggung jawab. Urusan CP selain hal data adalah memilah siapa yang harus dikirimi data dan siapa yang tidak lagi menjadi anggota pelanggan. Semua ini dikerjakan melalui program komputer. Jadi harus diingat, bukan operator yang mengirim data ke satu demi satu pelanggan. Kalo ini terjadi, tangan operator itu bisa kriting :)

Salah satu kesulitan CP adalah peran bemper yang harus disandangnya. Jika konsumen menemui masalah, baik teknis atau bukan, maka CP yang akan diserangnya. Padahal urusan teknis pengiriman data ke ponsel konsumen juga terkait dengan vendor. Biasanya, masalah muncul pada hari libur karena teknisi atau programmer di kantor vendor sangat terbatas.

Namun untuk kasus sedot pulsa, tak pelak lagi kesalahan ada di pihak CP. Entah disengaja atau tidak. Gambaran perbedaan peran antara CP dengan vendor bisa dilihat di bawah ini.
  • CP memilah dan mengelola nomor pelanggan yang masih aktif dan tidak aktif
  • CP menyediakan data layanan (berita, skor, humor, ramalan, chatting, dsb-nya) untuk nomor yang masih aktif (menjadi paket data siap antar)
  • Vendor memastikan paket data bisa terkirim (vendor sebagai jembatan antara CP dengan konsumen dalam hal data layanan).

Pada akhirnya, untuk menghindari kerugian di depan, konsumen sendiri yang harus pintar menyikapinya. Mas Puji sudah mengatakan itu dalam postingnya. CP yang baik biasanya memiliki departemen Costumer Service yang bisa diakses kapan saja. Jika dalam sebuah iklan SMS premium, tak tercantum hal itu, rekomendasinya cuma satu : tinggalkan!

Satu lagi, anda harus teliti dengan nomor akses. Jika anda mengirim SMS ke nomor ABCD, maka balasan yang datang juga akan berasal dari nomor tersebut. Jika bukan, anda patut mempertanyakannya. Selain itu, anda juga harus mengetahui dengan benar kata kunci yang tersedia. Jika salah, maka biaya sms tetap akan dihitung dan anda tak mendapat balasan sesuai harapan, kecuali tulisan "Keyword yang anda kirim salah. Silahkan lakukan kembali dengan keyword yang tersedia."

 
posted by Hedi @ 5:29 PM | Permalink | 24 comments
Wednesday, September 06, 2006
Bekerjasama Dengan Pekerja IT
Sebagai pekerja yang setia menggunakan internet, program admin dan berbagai perangkat lunak lain, saya cukup akrab bergaul dengan orang berprofesi IT. Tapi sekarang, situasinya sudah berubah, karena kantor saya ga punya divisi IT lagi.

Mungkin bos-bos sudah gerah melihat tingginya turn over di bagian itu. Entah kenapa kawan-kawan saya yang berprofesi IT sering banget keluar masuk. Gonta ganti personil. Baru kenal dengan A, eh sudah diganti dengan B. Seru juga, jadi banyak temen dan referensi.

Terakhir sekitar dua bulan lalu, orang IT terakhir yang keluar adalah perancang web dan editing video. Dia bilang dia tak punya kemudahan fasilitas dari kantor, salah satunya uang. "Kalau saya freelance, uangnya lebih besar," kata dia waktu itu.

Kini, segala urusan IT di kantor diurus sama lembaga outsourcing. Uniknya, perancang web dan programmer yang sekarang "dipelihara" kantor justru ada di Jogja. Namun, bekerja sama dengan orang IT memang penuh dinamika, baik yang penuh waktu maupun partikelir.

Tapi ada bedanya. Letaknya di proses kerja. Jika dengan yang penuh waktu, solusi masalah bisa cepat ketemu karena ada kesempatan face to face, berdampingan secara real time. Penjelasan hal-hal teknis jadi cepat nyambung.

Lain jika dengan outsourcing. Jika ada hal-hal detil, sangat sulit menyelaraskan pemahaman. Maklum, jarak yang jauh tanpa melihat wajah jadi kesulitan tersendiri. Kecuali ada sambungan video conference. Karena kantor saya cuma kelas kaki lima, jadilah voice to voice tanpa wajah sama sekali atau dengan email. Hasil kerja akhirnya bisa selesai dalam waktu agak lama. Atau kalau mau dipercepat, akan ada satu-dua hal yang butuh revisi.

Melihat profesi IT memang unik. Profesi ini bisa dikerjakan secara penuh waktu atau freelance. Beberapa kawan saya ada juga yang mengkombinasikan keduanya. Jika di kantor konvensional, kadangkala saya sering mendengar keluhan orang IT yang tak bisa fokus. Oleh karenanya, ada yang lebih suka bekerja di malam hari karena lebih tenang dan fokus. Tapi ini dianggap merepotkan manajemen kantor.

Mereka yang tak sesuai dengan cara kerja itu akhirnya memilih freelance dan outsourcing. Bekerja secara bebas dan sekehendak hati. Yang penting, order selesai tepat waktu dan sesuai permintaan. Tapi keluhannya, tak punya teman kerja. "Kalau di kantor bisa kerja sambil bergaul, di tempat sendiri malah terlalu sepi. Kadang kalau butuh inspirasi jadi susah sendiri," tukas seorang kawan.

Pesan saya buat mereka yang ingin bekerja sama dengan orang IT dari luar kantor, rumuskan persepsi logikanya agar kemudian menjadi lebih mudah. Itu yang paling penting karena selanjutnya tinggal penjabaran. Sebaliknya, ini juga sebisa mungkin dikerjakan oleh sang pelaku IT. Ibarat orang berorganisasi, ada Anggaran Dasar, kemudian Anggaran Rumah Tangga. Bungkus besarnya tetap koordinasi intensif dan dua arah.

Kemudian untuk yang punya divisi IT di kantornya, jaga mereka baik-baik. Pekerjaan mereka sarat beban sehingga butuh suasana yang nikmat (enjoy). Apabila mereka butuh kerja di malam hari atau di luar jam kerja normal, penuhi saja. Mudahi fasilitas kerjanya dan jangan beri mereka pekerjaan yang menumpuk secara tiba-tiba. Artinya, jika tugas X belum selesai, jangan dulu diberi tugas Y. Konsentrasi mereka bisa buyar dan ini sangat mengganggu bagi mereka. Judulnya pengelolaan dan pemahaman situasi.

 
posted by Hedi @ 8:59 AM | Permalink | 11 comments
Friday, September 01, 2006
Komentar: Antara Populer dan Eksis
Komentar bisa berakibat positif dan negatif. Jika yang buruk, mungkin saja akan membunuh niat orang untuk ngeblog, seperti yang pernah dikatakan oleh mas Priyadi. Tapi apa benar, komentar bisa membuat seorang blogger jadi populer?

Seorang teman yang rajin membaca blog, bertanya mengapa nama saya sering hadir di beberapa kotak komentar blog. Dia bilang apa saya mau jadi orang terkenal dengan menaruh nama blog di banyak tempat. Saya cuma tertawa lepas.

Salah satu hobi cyber saya adalah menjelajahi blog via bloglines, belum lagi yang saya simpan di bookmark. Banyak hal yang bisa didapat. Tadinya bolot dan tulalit jadi tahu, awalnya tak kenal maka bisa kenal. Membaca blog, kadang memancing minat untuk memberi komentar. Tapi tak semua posting yang muncul selalu saya komentari, meski saya baca. Komentar akan muncul ketika saya merasa perlu. Alasannya bukan untuk terkenal dan dikenal.

Untuk menjadi populer (dalam konotasi positif), tak perlu melakukan rekayasa macam-macam. Proses alam yang akan menjawab itu. Kalau saya menaruh komentar di blog orang, saya tak pernah berharap akan ada keuntungan balik. Saya hanya mencari kepuasan batin. Jika pemilik blog yang saya kunjungi, berbalik mengunjungi, ya terima kasih. Jika tidak, juga tak ada masalah dan saya pun akan tetap rajin ke sana dan (mungkin) memberi komentar.

Dalam dunia blog, terkadang kita dianggap tidak eksis jika tidak menulis komentar. Ini mirip dengan tautan. Jika anda tidak menaruh tautan orang lain, mungkin juga nama blog anda tak ada di daftar tautan orang lain. Sebuah tradisi yang cukup unik. Sebuah ukuran keberadaan yang lumayan memancing senyum kecut.

Banyak penulis blog populer yang justru jarang memberi komentar atau memajang daftar tautan di rumahnya sendiri. Tapi bukan berarti mereka tidak (pernah) berkunjung ke tempat anda. Sekadar contoh, saya punya daftar feed sekitar 150-an dan tak mungkin semua blog itu saya masukkan di daftar blogrolling. Populer atau tidak, eksis atau mati, disebabkan oleh karya atau tulisan di blognya. Bukan karena perbuatan di blog orang. Contohnya, Bang Enda, Andry, Paman Tyo, Pecas Ndahe atau yang lainnya.

Ini kasus saya, sekadar untuk menjawab pertanyaan kawan. Memasuki dunia blog, sekali lagi bukan untuk membuat saya dikenal dan terkenal atau gila pujian. Terlalu naif untuk melakukan itu :D. Satu yang pasti adalah pembelajaran diri dan memuaskan dahaga pengetahuan sambil melakukan silaturahmi.

 
posted by Hedi @ 12:19 AM | Permalink | 27 comments