Saturday, November 18, 2006
Pindahan
Ada banyak alasan yang menjadi latar belakang orang untuk pindah tempat, rumah, kamar, sekolah dan sebagainya. Terlalu panjang daftarnya jika ditulis di sini. Yang pasti alasan itu merupakan perpaduan baik dan buruk.

Oleh karena itu pula, saya juga akan meninggalkan kebiasaan lama menulis di sini. Hobi ngeblog saya akan berlanjut di rumah baru yang sebenarnya sudah dibeli sejak bulan Oktober. Jadi, ini adalah posting terakhir di blogspot.

Selanjutnya, saya hanya berada di sini dan sesekali berkunjung ke sini hanya untuk memeriksa kemungkinan ada yang tercecer.

Sampai jumpa di tempat baru!
 
posted by Hedi @ 4:01 AM | Permalink | 13 comments
Friday, November 10, 2006
Rombongan Presiden
Semenjak negeri ini dipimpin oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, saya belum pernah menyaksikan iringan perjalanan beliau. Tapi tadi siang, dalam sebuah perjalanan, saya harus berhenti karena terhadang rombongan SBY yang entah dari mana dan hendak menuju ke mana.

Momen seperti ini sebenarnya sangat saya senangi. Seru melihatnya, meski kemudian terjebak kemacetan yang lebih parah. Saya pun membandingkan protokoler rombongan presiden keenam Indonesia ini dengan yang sebelumnya, kecuali protokoler Soekarno. Maklum, saat bung Karno menjabat, saya belum lahir.

Jaman Soeharto
  • Lokasi: Malang, Jawa Timur
  • Proses berhenti sekitar 45 menit (bayangkan berhenti selama itu!)
  • Rombongan pertama : tim penyapu dengan 2 mobil patroli dan 2 motor polisi (standar)
  • Rombongan kedua (jeda 10 menit) : kelompok petinggi daerah (sekelas Sekwilda), 2 mobil patroli dan 2 motor polisi.
  • Rombongan ketiga (jeda 15 menit) : kelompok gubernur dan pangkodam, 1 bis, 2 patwal tentara (PM) dan 2 patwal polisi dan 2 motor polisi dan PM.
  • Rombongan keempat (jeda 15 menit) : kelompok presiden, 5 patwal PM, 4 motor PM
  • Rombongan kelima (jeda 5 menit) : tim penyapu dengan 2 mobil PM dan 1 motor PM
Jaman Habibie
  • Lokasi : Jakarta
  • Proses berhenti sekitar 20 menit (ini lumayan cepat)
  • Rombongan pertama : tim penyapu standar
  • Rombongan kedua : presiden dengan 4 patwal PM dan 4 motor PM
  • Rombongan ketiga : tim penyapu standar
Jaman Gus Dur
  • Lokasi : Jakarta
  • Proses berhenti sekitar 20 menit
  • Rombongan pertama : tim penyapu standar
  • Rombongan kedua : ini mirip dengan Habibie, plus 1 mobil ambulance dan 1 mobil sipil pemerintah
  • Rombongan ketiga : tim penyapu standar
Jaman Megawati
  • Lokasi : Malang
  • Proses berhenti sekitar 45 menit
  • Jumlah rombongan mirip dengan Soeharto, hanya saja tak ada bis
Jaman SBY
  • Lokasi : Jakarta
  • Proses berhenti sekitar 20 menit
  • Jumlah rombongan mirip dengan Habibie

Dari kelima jaman tersebut, jaman Habibie, Gus Dur dan SBY kelihatan lebih santun. Beliau bertiga tidak menyita waktu masyarakat lebih lama. Namun kemungkinan perbedaan waktu tersebut juga dipengaruhi oleh maksud perjalanan itu. Soeharto dan Megawati berada dalam kunjungan kerja ke daerah. Tentu saja akan lebih besar rombongannya karena ada gubernur, walikota, sekwilda dan pangkodam militer yang harus ikut serta menurut prosedur tetap protokoler.

Namun dalam kondisi apapun, jangan coba-coba melanggar atau menghambat rombongan itu. Jika anda punya urusan darurat, berharap saja tak bertemu rombongan itu, bisa sial. Saya pernah dapat cerita ada sebuah mobil disodok tim penyapu Megawati di jalan tol dalam kota Jakarta. Mobil itu mendapat sial karena terhambat kemacetan saat akan keluar tol. Waktunya sudah terlalu mepet sehingga harus rela disodok dan ringsek tanpa kena ganti untung.

Tanggal 20 November nanti, ada rombongan lebih elite yang bakal lewat, minimal di kota Bogor. Si dia Mr Bush itu. Berharap saja anda tak punya urusan darurat saat itu, karena ini pertemuan dua negara, protokolernya ketat banget.
 
posted by Hedi @ 1:04 PM | Permalink | 10 comments
Thursday, November 02, 2006
Jangan Hanya Bermimpi
Kata orang tua, bermimpi itu sah-sah saja, tapi ya jangan keterusan. Lanjutkan mimpi itu dengan usaha untuk mewujudkannya sesuai kapasitas diri. Kasarnya, kita harus bisa mengukur diri. Lalu bagaimana dengan sepakbola Indonesia, pantaskah bermimpi untuk bisa tampil di Piala Dunia.

Ya boleh saja mengimpikan tim Indonesia suatu saat ada di turnamen bergengsi itu. Namun untuk menuju ke sana mesti memiliki modal bagus. Jangan pernah berpikir menggunakan langkah instan seperti yang sering dilakukan petinggi sepakbola di sini. Yang terbaru, PSSI berniat menarik pemain peranakan Indo-Belanda yang banyak berkarir di Liga Belanda.

Membaca berita itu kok rasanya semakin kesal saja melihat kinerja PSSI. Mereka selalu beranggapan membangun tim nasional berkualitas hanya bisa didasarkan pada pembinaan terpusat. Pemain dikumpulkan di tim, melakukan latihan bersama secara jangka panjang dan hanya melulu melakukan pertandingan persahabatan.

Salah satu ide lainnya, jika bisa menurunkan tim itu di kompetisi asing seperti halnya tim Primavera dulu. Tim muda Indonesia, Under 23 years old, yang sedang melakukan pelatnas di Belanda sedang dijajaki untuk tampil di Liga Singapura.

Tentu saja, dari dua kasus di atas ada benang merah yang bisa ditemukan, yakni kompetisi. Benar, memang hanya kompetisi berkualitas yang bisa melahirkan tim nasional bermutu pula. Pelatih U-23, Fope de Haan, sudah mengatakan itu sewaktu diwawancarai oleh harian Kompas beberapa waktu lalu.

Melakukan pelatnas jangka panjang tak akan artinya jika para pemain itu tak pernah tampil di kompetisi. Pasalnya, kompetisi dianggap sebagai medan pertempuran memadai untuk menempa mental, fisik dan skil pemain. Segala yang dibutuhkan pemain ada di dalam kompetisi.
Oleh karena itu PSSI sudah sepatutnya membangun kompetisi lokal agar lebih bermutu. Bukan dengan jalan instan membentuk tim pilihan dan mengirim berlatih di mana-mana. Para pemain Indo-Belanda itu bisa punya kualitas bagus karena mereka menjalani karir di kompetisi profesional Belanda yang tertata dengan baik. Tim-tim kelas dunia pun bisa menjadi hebat karena punya kompetisi yang hebat pula.

Jadi, lupakan saja mimpi indah ke Piala Dunia dengan para "pemain jadi" itu. Benahi kompetisi dan segala infrastrukturnya jika mau memiliki tim dan pemain berkualitas di Indonesia.
 
posted by Hedi @ 12:14 AM | Permalink | 13 comments